Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Friday, September 22, 2017

STAI Al-Ikhlas Sidikalang, Dairi, Sumatera Utara







Status Prodi
Aktif

Jenjang Perguruan Tinggi
S1

Perguruan Tinggi
STAI Al-Ikhlas Sidikalang, Dairi, Sumatera Utara

Kode Program Studi
86208

Nama Program Studi
Pendidikan Agama Islam

Tanggal Berdiri
17 Desember 2007

SK Penyelenggaraan
 Dj.I/495/2007- Dj.I/867/2010

Tanggal SK
06 Desember 2010

Alamat
Jl. Masjid no.  sidikalang

Kode Pos
22218

Telepon
0627-21248

Faximile
0627-21248

Email
Stai_Sidikalang@yahoo.com


    Gelar Lulusan
S.Pd

    Deskripsi


    Visi
Unggul dan terpercaya,kompeten dan kompetitif dalam pendidikan tenaga kependidikan Agama Islam

    Misi
Melahirkan Tenaga guru PAI yang berakhlakul Karimah berpengatahuan luas dan terampil menggunakan teknologi pendidikan


Wednesday, September 20, 2017

MARS STAIS AL IKHLAS DAIRI

Wednesday, January 14, 2015

Jurnal Pendidikan


Sebuah jurnal memiliki beberapa arti terkait:
  • catatan harian peristiwa atau bisnis; jurnal pribadi biasanya disebut sebagai diary
  • sebuah koran atau berkala lainnya, dalam arti harfiah dari satu diterbitkan setiap hari
  • banyak publikasi yang diterbitkan pada interval menyatakan, seperti jurnal akademik , atau catatan transaksi suatu masyarakat, yang sering disebut jurnal. [1] Dalam penggunaan akademis, jurnal mengacu pada, publikasi ilmiah yang serius yang peer-review . Sebuah non-ilmiah majalah ditulis untuk audiens dididik tentang industri atau area kegiatan profesional biasanya disebut majalah perdagangan 
Link Langsung ke Jurnal Akademik Universitas Indonesia





http://journal.ui.ac.id/jcse>CIVIC, Journal for civil society empowerment 

http://journal.ui.ac.id/ebar>EBAR (Economic Business Accounting Review) 
















http://journal.ui.ac.id/jpi>GLOBAL, Jurnal Politik Internasional




http://journal.ui.ac.id/IJIL>Indonesian Journal of International Law















http://journal.ui.ac.id/jeki>Jurnal Ekonomi dan Keuangan Indonesia

http://jepi.fe.ui.ac.id/index.php/JEPI>Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia



http://journal.ui.ac.id/jhp>Jurnal Hukum dan Pembangunan







http://journal.ui.ac.id/jkmi>Jurnal Komunikasi Indonesia

http://journal.ui.ac.id/jki>Jurnal Kriminologi Indonesia






















http://journal.ui.ac.id/tseajm>The South East Asian Journal of Management









Webometrics Ranking of Universities 2014

Peringkat Universitas menurut Webometrics (Inggris: Webometrics Ranking of Universities) adalah inisiatif untuk mempromosikan dan membuka akses publikasi ilmiah guna meningkatkan kehadiran akademik dan lembaga-lembaga penelitian di Situs Web. Peringkatan dimulai pada tahun 2004 dan didasarkan pada gabungan indikator yang memperhitungkan baik volume maupun isi Web, visibilitas dan dampak dari publikasi web sesuai dengan jumlah pranala luar yang diterima. Peringkat ini diperbaharui setiap bulan Januari dan Juli, penyedia Web indikator universitas dan pusat penelitian di seluruh dunia. Pendekatan yang mempertimbangkan berbagai kegiatan ilmiah diwakili di situs akademik yang sering diwakilkan dengan penggunaan indikator bibliometrik.

Kriteria yang digunakan Webometrics dalam melakukan pemeringkatannya di kampus di dunia berdasarkan parameter digital.
  • PRESENCE (Bobot: 20%), yaitu volume konten global yang terindeks Google
  • IMPACT (50%), yaitu kualitas konten yang diukur dengan tautan eksternal dari pihak ketiga dengan data visibility-nya menggunakan dua mesin pencari yaitu Majestic SEO dan Ahrefs.
  • OPENNESS (15%), yaitu jumlah rich file (pdf, doc, docs, dan ppt) yang terindeks di google scholar
  • EXCELLENCE (15%), yaitu karya akademik yang dipublikasikan di jurnal international yang tergolong high-impact dengan sumber datanya diambil dari Scimago.
Sepuluh besar dunia adalah:
Rank Indonesia
Universities
1
Universitas Gajah Mada
2
Institut Teknologi Bandung
3
Universitas Indonesia
4
Universitas Airlangga
5
Universitas Padjajaran
6
Universitas Brawijaya
7
Universitas Diponegoro
8
Institut Pertanian Bogor
9
Institut Teknologi Sepuluh November
10
Universitas Gunadarma
11
Universitas Hasanudin
12
Universitas Kristen Petra
13
Universitas Islam Indonesia
14
Universitas Pendidikan Indonesia
15
Universitas Sebelas Maret
16
Unibersitas Bina Nusantara
17
Universitas Muhamadiyah Yogyakarta
18
Universitas Mercubuana
19
Universitas Negeri Semarang
20
Universitas Sriwijaya

webometrics januari 2014 se Asia  Tenggara.
+ Webometrics ranking   1 – 100 +
Ranking    World Rank    University
1    83    National University of Singapore

2    233    Nanyang Technological University
3    280    Chiang Mai University
4    294    Mahidol University
5    339    Chulalongkorn University
6    341    Prince of Songkla University
7    416    Khon Kaen University
8    451    King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang
9    459    Kasetsart University
10    524    Thammasat University
11    582    Universiti Sains Malaysia
12    598    Universitas Gadjah Mada
13    601    Naresuan University
14    611    Universiti Putra Malaysia
15    630    Universiti Teknologi Malaysia
16    636    Institute of Technology Bandung
17    639    University of Malaya
18    696    University of Indonesia
19    731    Suranaree University of Technology
20    738    Burapha University


Sunday, January 4, 2015

Wisuda Sarjana STAIS ke 18 Tahun 2014















Perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw 1436 H











Wednesday, February 26, 2014

Ikhwan Al Shafa (Persahabatan Suci)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
       Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat unik, dimana ia diciptakan dari badan jasmaniah dan aspek ruhaniah, badan jasmaniah terdiri dari materi dan mempunyai kecenderungan pada yang bersifat materi pula. Dari aspek biologis manusia sangat bergantung pada hal-hal yang material, seperti; sandang pangan dan papan (kebutuhan pokok, primer) bahkan kebutuhan sekunder. Sedang  jiwa manusia berasal dari ruh yang suci dengan kecenderungan yang bersifat ruhaniah pula. Dari sisi ini, manusia sangat bergantung pada hal-hal yang bersifat sepiritual, membutuhkan ketenangan, ketentraman dan bergantung  pada Zat yang maha Mutlak.
       Keunikan manusia yang lain terletak pada kemampuannya dalam merenungkan, memikirkan tentang alam semesta (cosmos), Tuhan (Theos), bahkan ia dapat mempersoalkan dirinya sendiri, siapa, bagaimana, untuk apa, dari mana, dan mau kemana ujung kehidupanya itu.
       Dari aspek perenungan dan pemikiran manusia yang terus menerus mengalir dalam dirinya itu, akhirnya manusia menemukan gagasan, ide, rumusan, konsep yang beraneka ragam, dan corak, yang dapat diidentikkan kepada pemikirannya, sehingga muncullah tokoh-tokoh dibidang pemikiran masing-masing.
       Adalah Ikhwan Al Shafa suatu pergerakan dan kelompok pemikir yang berada di Basrah dan berkembang sampai ke Bagdad juga menghasilkan gagasan-gagasan di bidang filsafat, pendidikan dan lain-lain.

1

B.     Pembatasan  Masalah
       Dari latar belakang masalah yang telah disebutkan di atas maka penulis dalam makalah ini, hal-hal yang terkait dengan Ikhwan Al Shafa, sebagai berikut:
1.      Sejarah lahirnya Ikhwan Al Shafa
2.      Tokoh-tokoh Ikhwan Shafa
3.      Karya-karya Ikhwan Al Shafa
4.      Pemikiran-pemikiran Ikhwan Al Shafa di bidang filsafat dan pendidikan

C.      Tujuan Penulisan Makalah
         Begitu banyak tokoh pemikir dalam berbagai bidang dan disiplin keilmuan, untuk itu penulisan makalah ini bertujuan antara lain:
1.      Untuk mengetahui sejarah kapan lahirnya IkwanAl Shafa
2.      Untuk mengetahui tokoh-tokoh Ikhwan Al Shafa
3.      Untuk mengetahui karya-karya Ikhwan Al Shafa
4.      Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran Ikhwan Al Shafa
5.      Untuk menambah wawasan penulis. 


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Lahirnya Ikhwan Al Shafa (Persahabatan Suci)
Ikhwan Al Shafa adalah nama sekelompok pemikir muslim rahasia (Filosofiko-Religion) berasal dari sekte Syi’ah Ismailiah yang lahir di Timur tengah komunitas Sunni sekitar abad ke-4 / 1000 M di Basrah.1 Kelompok ini merupakan gerakan bawah tanah yang mempertahankan semangat berfilsafat khususnya dan pemikiran rasional pada umumnya di kalangan pengikutnya. Kerahasiaan kelompok ini yang juga menamakan diri dengan Khulan Al Wafa’,Ahl Al Adl, dan Abna Al Hamd, baru terungkap setelah berkuasanya Dinasti Buwaihi pada tahun 983 M di Bagdad yang berfaham Syi’ah.2 Ada kemungkinan kerahasiaan kelompok pemikir Islam ini disebabkan oleh faham Taqiyah (menyembunyikan keyakinan) ajaran Syi’ah karena basis kegiatannya berada di tengah-tengah masyarakat Sunni yang tidak sejalan dengan Ideologinya.3
Munculnya organisasi yang bergerak dalam bidang keilmuan dan juga bertendensi politik ini, ada hubunganya dengan kondisi dunia Islam ketika itu. Sejak pembatasan teologi rasional Mu’tazillah  sebagai madzhab negara oleh Al Mutawakkil dan kaum rasional dicopot dari jabatan pemerintah kemudian diusir dari Bagdad. Kondisi yang tidak kondusif ini berlanjut pada Khalifah-khalifah sesudahnya. Penguasa melarang diajarkan kesusasteraan, ilmu dan filsafat, sehingga hal ini menyebabkan cara berfikir tradisional,4 dan meredupkan keberanian berfikir umat. [1]
Pada sisi lain, berjangkit pola hidup  bermewah-mewah dikalangan pembesar                                negara, menjadi pendorong mereka untuk mendekati para khalifah untuk menanamkan pengaruhnya sehingga timbul persaingan yang tidak sehat yang mengarah pada timbulnya dekadensi moral. Itulah diantara faktor yang melatarbelakangi lahirnya Ikhwan Al Shafa yang ingin menyelamatkan masyarakat dan mendekatkannya kebahagiaan yang diridhoi Allah, karena mereka beranggapan bahwa syariat telah dinodai bermacam-macam kejahilan dan dilumuri beranekaragam kesesatan, dan satu-satunya jalan untuk membersihkannya adalah filsafat.5
Pada awal munculnya, Ikhwan Al Shafa berkembang di Basrah, kemudian membuka cabang di Baghdad tidak lama kemudian tumbuh dan berkembang di beberapa tempat.6 Belum diketahui pastinya kapan tahun berdirirnya Ikhwan Al Shafa, tetapi berita tentang keberadaannya diketahui pada abad ke-4 Hijriyah atau abad ke-10 Masehi. Dan bisa saja kelompok ini tumbuh sebelumnya.7 Strategi untuk memperluas gerakannya, Ikhwan Al Shafa mengirimkan anggotanya ke kota-kota tertentu untuk mengajak siapa saja yang berminat pada keilmuan dan kebenaran, lalu membentuk cabang di tempat-tempat tersebut, walaupun demikian, militansi anggota dan kerahasiaan mereka tetap dijaga. 
Dalam sejarah islam, kelompok Ikhwan Al Shafa tampil eksklusif dengan gerakan reformatif pendidikannya, karena mereka itu adalah ta’limiyyun (berisi pengajaran), dalam melangsungkan kegiatan keilmuan dan politiknya.
Kecenderungan ta’limy ini, sangat kelihatan dalam praktek politiknya yaitu dalam pola relasi dan organisasi antar mereka berada pada penjenjangan dakwah (penyebaran misi). Penjenjangan keanggotaan dan aksinya, mereka terdiri dari empat tingkatan :
1.      Ikhwan Al Abrar Al Rumana. (yang baik-pengasih)
Kelompok remaja dan pemuda yang berusia 15-30 tahun, yang pertumbuhan dan perkembangan jiwanya relatif  jiwanya masih selaras dengan fitrah, mempunyai karakter jernih jiwanya, murah hati, manis kata dan cepat faham serta pikirannya masih kuat. Mengingat jenjang usianya kelompok ini berstatus murid, maka sepantasnya mereka mengikuti bahkan dituntut untuk tunduk dan patuh secara sempurna pada gurunya.8
2.      Ikhwan Al Akhyar Al Fudlola (yang terpilih-mulia)
Yaitu kelompok orang dewasa dengan usia 30-40 tahun, mereka bercirikan Concern terhadap Ikhwan, pemurah, lembut, santun, kasih sayang dan siap berkorban demi persaudaraan (mereka tingkatan para guru).9
3.      Ikhwan Al Fudlala Al Karim (para saudara yang utama dan mulia).
Yakni kelompok usia 40-50 tahun, mereka ini bercirikan otoritatif, direktif, pemersatu atas pertentangan yang ada dengan cara bijak serta rekonstruktif, dalam kenegaraan kedudukan mereka sama dengan sultan atau hakim, dan mereka sudah dapat mengetahui Namus Ilahi (malaikat Tuhan) dengan baik dan mengetahui aturan ketuhanan sebagaimana tingkatan para Nabi.10

4.      Al Kamal
Yakni kelompok yang berusia 50 tahun ke atas, mereka disebut dengan tingkat Al Muqorrobin Min Allah, karena mereka sudah mampu memahami hakikat sesuatu sehingga mereka telah terbuka untuk menyaksikan kebenaran langsung dengan mata hati.11
Tingkatan Ikhwan sebagaimana disebutkan di atas menunjukkan bahwa betapa selektifnya mereka memilih anggota-anggotanya, dan tidak semua orang dapat diterima sebagai anggota Ikhwan kecuali mereka yang benar-benar memenuhi syarat dan kwalitas yang unggul terutama dalam bidang ketajaman pemikiran.
Pada masa khalifah Abbasiyah dikuasai dinasti Salajikah yang berpaham sunni, menilai gerakan kelompok ini mengganggu stabilitas keamanan dan ajaran-ajarannya dipandang sesat, maka pada tahun 1150 M khalifah Al Muntanzid mengintruksikan agar seluruh karya filsafat ikhwan diserahkan kepadanya untuk dibakar.[4]
B.     Tokoh-Tokoh Ikhwan Al Shafa
Identitas Ikhwan Al Shafa bersama anggota-anggotanya tidak begitu jelas karena mereka selalu merahasiakan aktifitasnya. Para ahli sejarah, menurut As Sijistani (391 H/1000 M)12 hanya mengetahui lima nama tokoh pemuka Ikhwan Al Shafa yaitu : Abu Sulaiman Muhammad Ibnu Nashir Al Busthi, yang terkenal dengan gelar Al Muqaddasi, Abu Hasan Ali Bin Harun Al Zanjani, Zaid Bin Rifa’ah, Abu Ahmad Al Mihrajani (An Nahrajuri), dan Abu Hasan Al Aufi. Al Qafthi berkomentar tentang mereka dengan menukil pendapat Abu Hayyan At-Tauhidi,
Kelompok ini diperkuat oleh persaudaraan, saling berbagi atas dasar persahabatan serta berkumpul atas dasar keluhuran, kesucian dan ketulusan. Selanjutnya mereka membuat suatu madzhab dengan beranggapan bahwa mereka dapat menempuh jalan menuju ridho Allah SAW.13 Mereka berpendapat bahwa syariat telah dikotori oleh berbagai macam kebodohan dan kesesatan, dan tidak ada jalan untuk membersihkannya kecuali dengan filsafat.14 Sebab filsafat mengandung hikmah keyakinan dan maslahat ijtihadiyah.
Mereka berusaha melakukan kompromi antara filsafat yunani dan syariat islam dan beranggapan jika filsafat yunani dan syariat arab bersatu, maka akan terjadi kesempurnaan. Hal yang demikian juga pernah terjadi perhatian Al Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rasyd, dengan alasan bahwa filsafat yunani dan syariat islam sama-sama menyiarkan satu kebenaran. Hanya saja Ikhwan Al Shafa tidak mengambil islam sebagaimana yang terdapat dalam Alqur’an dan sunnah Nabi, tetapi mereka mencampurkannya dengan berbagai sekte agama dan kepercayaan dengan anggapan bahwa madzhab mereka mencakup semua madzhab.15 Mereka memandang bahwa agama sejati adalah persahabatan yang tulus, pergaulan yang baik, penguasaan ilmu, pendidikan jiwa dan proses mengikuti akal.

C.     Karya-Karya Ikhwan Al Shafa
Ikhwan Al Shafa menghasilkan karya yang monumental sebanyak 52 risalah yang mereka namakan  dengan Rasa’il Ikhwan Al Shafa, dengan keluasan dan kwalitas beragam yang mengkaji subjek-subjek berspektrum luas mulai dari musik sampai sihir.16 Ia merupakan ensiklopedis popular tentang ilmu dan filsafat yang memberikan cermin pedagogis dan kultural pada masa itu. Ditinjau dari segi isi, Rasa’il ini dapat diklarifikasikan menjadi empat bidang :
1.      14 risalah tentang matematika, yang mencakup geometri, astronomi, geografi, logika, music, seni dan modal.
2.      17 risalah berisi tentang fisika dan ilmu alam, di dalamnya mencakup geneologi, mineralogy, botani, hidup dan matinya alam, senang sakitnya alam, keterbatasan, manusia dan kemampuan kesadaran.
3.      10 risalah tentang jiwa, mencakup metafisika Phytagoranisme dan kebangkitan alam.
4.      11 risalah tentang ilmu-ilmu ketuhanan, hubungan alam dengan Allah, ideologi mereka, kenabian dan keadaannya, tindakan rohani, bentuk konstitusi politik, kekuasaan Allah, magic dan azimah.17
  
D. Pemikiran-Pemikiran Ikhwan Al-shafa
d.1. Pemikiran Filsafat Ikhwan Al-shafa
d.1.a. Al- Tawfiq  dan Talfiq
Pemikiran al-tawfiq (rekonsilasi) Ikhwan Al-Shafa terlihat pada tujuan pokok bidang keagamaan yang hendak mereka capai, yakni merekonsiliasikan atau menyelaraskan antara agama dan filsafat dan juga antara agama-agama yang ada. Usaha ini terlihat dari ungkapan mereka bahwa syariah telah dikotori bermacam-macam kejahilan dan dilumuri berbagai kesesatan. Satu-satunya jalan untuk memebersihkannya adalah filsafat. Usaha rekonsiliasi antara agama dan filsafat sebenarnya telah dilakukan Al-Farabi dan Ibnu  Sina. Akan tetapi, bedanya kedua filosof muslim ini hanya mengupas keselarasan kebenaran filsafat dan agama, sebagaimana yang termuat dalam Al-qur’an. Sementara itu, Ikhwan Al-Shafa melangkah lebih jauh, mereka melepas sekat-sekat perbedaan agama. Karenanya rekonsiliasi yang mereka maksud tidak hanya antara filsafat dengan agama islam, namun juga antara filsafat dengan seluruh agama, ajaran, dan keyakinan yang ada. Kemudian, menurut klaim mereka, apabila dipertemukan dan  disusun antara filsafat Yunani dan syariah Arab, maka ia akan menghasilkan formulasi-formulasi yang lebih sempurna.18  

Pada pihak lain, tawfiq (rekonsiliasi) mereka lakukan dengan cara mengambil ajaran-ajaran filsafat yang tidak bertentang dengan ajaran Islam. Dengan kata lain, mereka memahami ajaran agama secara rasional. Filsafat, menurut mereka , diawali dengan mencintai ilmu pengetahuan, kemudian dengan filsafat juga memahami hakikat segala sesuatu, dan diakhiri dengan beramal sesuai dengan pengetahuan.
Sebenarnya antara tujuan filsafat dan agama, menurut Ikhwan Al-Shafa, adalah sama. Filsafat bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sejauh kemampuan manusia dengan dasar ilmu yang benar, akhlak yang mulia dan bertingkah laku yang terpuji. Sementara itu, agama juga dimaksudkan untuk mendidik jiwa manusia dan mengantarkan mereka agar dapat mencapai kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Jadi, dasar pemaduannya menurut mereka seperti telah disebutkan terletak pada tujuan agama itu sendiri, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, untuk mencapai maksud tersebut diperlukan filsafat. Mereka sebenarnya tidak mengingkari informasi agama yang bernada antropomorfis, tetapi untuk memahaminya mereka mengharuskan dengan jalan takwil, karena menurut klaim mereka, Ikhwan Al Shafa termasuk kelompok yang memiliki otoritas tentang ini, yakni termasuk dalam al-Rasikhun fi al-‘ilm.19
Selanjutnya, mereka juga melakukan pemaduan antara agama-agama yang ada, seperti islam, Kristen, Majuzi,Yahudi, dan lain-lainnya. Menurut mereka, tujuan semua agama tersebut sama-sama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Atas dasar itu mereka menghimpun, menyusun, dan memadukan semua agama yang ada menjadi satu agama khusus didasari atas asas filsafat.
Pemikiran ini termaktub dalam tujuan utama mereka yang kedua, yakni bidang politik. Menurut mereka, Daulat Abbasiyah telah menjadikan negara dalam kerusakan (al-fasad), sedangkan penduduknya telah menjadi ahl al-syarr (jelek), yang perbuatan-perbuatan mereka bermuara pada kekurangan dan kebinasaan. Justru itulah negara baru yang mereka idamkan bagaikan laki-laki yang satu dalam segala urusan dan jiwa yang satu dalam segala pengaturan. Sementara itu, penduduknya adalah ahl al-khair (baik) yang terdiri dari kaum ulama, ahli hikmah, dan orang yang utama atau pilihan, mereka sepakat atas pendapat yang satu, mazhab yang satu, dan agama yang satu.20
Usaha al-tawfiq diatas akan menghasilkan kesatuan filsafat dan kesatuan mazhab. Implikasinya akan melahirkan apa yang disebut dengan al-talfiq (elektik), yang memadukan semua pemikiran yang berkembang  pada waktu itu, seperti pemikiran Persia, Yunani, dan semua agama. Sementara itu, sumber ajaran mereka adalah Nuh, Ibrahim, Sokrates, Plato, Zoroaster, Isa, Muhammad, dan Ali.21 Elektik (talfiq) yang mereka lakukan ialah dengan cara mengambil ajaran-ajaran dari sumber mana pun yang mereka nilai benar dan baik, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka tetap mengagungkan agama islam sebagai agama dan ajaran yang terbaik.


Usaha Al- talfiq seperti di atas ada yang menilai bersifat idealis dan tidak mungkin membumi di alam nyata. Hal ini mengingat sifat manusia yang heterogenitas, dimana masing-masing individu mempunyai natur dan kemampuan yang berbeda. Namun, apabila dipahami secara cermat, ajaran elektik (talfiq) Ikhwan  Al-Shafa ini bukanlah suatu kemustahilan karena yang mereka maksud ialah Islam ajaran utama , dan ajaran-ajaran lain hanya sekedar pelengkap untuk memudahkan pemahaman Islam itu sendiri.
d.1.b. Ketuhanan
Dalam pembahasan masalah ketuhanan, Ikhwan Al Shafa melandasi pemikirannya pada angka-angka atau bilangan. Menurut mereka ilmu bilangan adalah “lidah” yang mempercakapkan tauhid, al-tanzih, dan meniadakan sifat dan tasybih serta dapat menolak atas orang yang mengingkari keesaan Allah.22 Dengan kata lain, pengetahuan tentang angka membawa pengakuan tentang keesaan Allah karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah semuanya.
Selanjutnya mereka katakan, angka satu sebelum angka dua, dan dalam angka dua terkandung pengertian kesatuan. Dengan istilah lain, angka satu adalah angka yang pertama dan angka itu lebih dahulu dari angka dua dan lainnya. Oleh karena itu, keutamaan terletak pada yang dahulu, yakni angka satu. Sementara angka dua dan lainnya terjadinya kemudian. Oleh karena itu, terbuktilah bahwa Yang Maha Esa (Allah) lebih dahulu dari yang lainnya seperti dahulunya angka satu dari angka lain.23

Dari pembicaraan di atas terlihat jelas besarnya pengaruh Neopythagoreanisme yang dipadukan dengan filsafat keesaan Plotinus pada Ikhwan Al Shafa. Barangkali kesan tauhid dalam filsafat mereka itulah yang menarik Ikhwan Al Shafa mengambilnya sebagai argumen tentang keesaan Allah.
Tentang adanya Allah, menurut Ikhwan Al Shafa, merupakan hal yang sangat mudah dan nyata. Hal ini disebabkan manusia dengan fitrahnya dapat mengenal Allah dan seluruh yang ada ini akan membawa manusia pada kesimpulan pasti tentang adanya Allah yang menciptakan segala yang ada.24
Sebagaimana Mu’tazilah, Ikhwan Al Shafa juga menolak sifat dan antropomorfis bagi Allah, sebagaimana Yang Satu tidaklah tersusun. Menurut mereka melekatkan sifat kepada Allah hanya sekedar metaforis, guna memudahkan pemahaman bagi masyarakat awam. Sementara itu, Allah tidak dapat diserupakan dan disetarakan dengan makhluk-Nya, seperti terpatri dalam firman-Nya : Laisa kamislih syai’.
Tentang ilmu Allah mereka katakan bahwa seluruh pengetahuan (al-ma’lumat) berada dalam ilmu Allah sebagaimana beradanya seluruh bilangan dalam bilangan satu. Berbeda dengan ilmu para pemikir, ilmu Allah dari zat-Nya sebagaimana bilangan yang banyak dari bilangan yang satu, yang meliputi seluruh bilangan. Demikian pula ilmu Allah terhadap segala yang ada.25

 [11]

d.1.c. Emanasi
Filsafat emanasi Ikhwan Al Shafa terpengaruh oleh Pythagoras dan Plotinus. Menurut mereka, Allah adalah pencipta dan mutlak Esa. Dengan kemauan sendiri Allah menciptakan Akal Pertama atau Akal Aktif secara emanasi. Kemudian, Allah menciptakan jiwa dengan perantaraan akal. Selanjutnya, Allah menciptakan materi pertama (al-hayula al-ula). Dengan demikian, kalau Allah kadim, lengkap, dan sempurna, maka akal pertama ini juga demikian halnya. Pada Akal Pertama lengkap segala potensi yang akan muncul pada wujud berikutnya. Sementara jiwa terciptanya secara emanasi dengan perantaraan akal, maka jiwa kadim dan lengkap, tetapi tidak sempurna. Demikian juga halnya materi pertama karena terciptanya secara emanasi dengan perantaraan jiwa, maka materi pertama adalah kadim, tidak lengkap, dan tidak sempurna.
Jadi, Allah tidak berhubungan dengan alam materi secara langsung sehingga kemurnian tauhid dapat terpelihara dengan sebaik-baiknya. Secara ringkas rangkaian proses emanasi itu sebagai berikut.
Allah Maha Pencipta dan dari-Nya timbullah :
a.       Akal Aktif atau Akal Pertama (al-‘aql al Fa-‘al)
b.      Jiwa Universal (al-Nafs al-Kulliyat)
c.       Materi Pertama (al-Hayula al-Ula)
d.      Alam Aktif (al-Thabi’at al Fa’ilat)
e.       Materi Absolut atau Materi Kedua (al-Jism al-Muthlaq)
f.       Alam Planet-Planet (‘alam al-Aflak)
g.      Unsur-unsur terendah (‘Anashir al-Alam al-Sufla), yaitu air, udara, tanah dan api
h.      Materi gabungan, yang terdiri dari mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.

14
Selaras dengan prinsip matematika Ikhwan Al Shafa, kedelapan mahiyah di atas bersama zat Allah yang mutlak, maka sempurnalah jumlah bilangan menjadi sembilan. Angka Sembilan ini juga membentuk substansi organic pada tubuh manusia, yakni tulang, sumsum, daging, urat, darah, saraf, kulit, rambut, dan kuku.
Proses penciptaan secara emanasi di atas, menurut Ikhwan Al Shafa, terbagi menjadi dua :
a.       Penciptaan sekaligus (daf’atan wahidah)
Penciptaan sekaligus apa yang mereka sebut alam rohani, yakni Akal Aktif, Jiwa Universal, dan Materi Pertama.
b.      Penciptaan secara gradual (tadrij)
Penciptaan secara gradual apa yang mereka sebut dengan alam jasmani, yakni Jisim Mutlak dan seterusnya. Jisim Mutlak tercipta dalam zaman yang tidak terbatas dalam periode yang panjang. Periode-periode ini akan membentuk perubahan-perubahan dalam masa, seperti penciptaan dalam masa enam hari.26
Tentang alam semesta, menurut Ikhwan Al Shafa, bukan kadim, tetapi baharu. Karena alam semesta ini, menurut mereka, diciptakan Allah dengan cara emanasi secara gradual, mempunyai awal, dan akan berakhir pada masa tertentu.27

Salah satu pemikiran Ikhwan Al Shafa yang paling mengagumkan yakni pada rentetan kedelapan emanasi, ia telah mendahului, bahkan melebihi Charles Darwin (1809-1882) tentang rangkaian kejadian di alam secara evolusi. Darwin dalam evolusi biologisnya hanya bicara manusia diduga berasal dari kera, sedangkan Ikhwan Al Shafa membicarakan emanasi dan evolusi. Dalam rangkaian evolusinya, mereka menyebutkan alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan, dan alam manusia merupakan satu rentetan yang sambung menyambung. Masing-masing dari alam ini yang mempunyai derajat tertinggi mempunyai hubungan langsung dengan alam berikutnya yang mempunyai derajat terendah. Seperti alam mineral derajat tertinggi mempunyai hubungan langsung dengan alam tumbuh-tumbuhan yang mempunyai derajat terendah dan demikian seterusnya alam tumbuh-tumbuhan dengan alam hewan dan alam hewan dengan alam manusia.28

d.1.d. Matematika
Dalam pembahasan matematika Ikhwan Al Shafa dipengaruhi oleh Pythagoras yang mengutamakan pembahasannya tentang angka atau bilangan. Bagi mereka angka-angka itu mempunyai arti spekulatif yang dapat dijadikan dalil wujud sesuatu. Oleh sebab itu, ilmu hitung merupakan ilmu yang mulia dibanding ilmu empiric karena tergolong ilmu ketuhanan.29

Ilmu bilangan berkaitan dengan planet-planet. Masing-masing mempunyai tugas khusus. Bulan bertugas membuat tubuh manusia tumbuh dan berkembang. Merkuri bertugas mencerdaskan akal. Matahari bertugas member nikmat. Mars memberikan sifat keberanian, keperkasaan dan kemuliaan. Yupiter membimbing manusia dalam pengembaraannya sampai pada kehidupan akhirat. Termasuk pengiriman Nabi, juga berhubungan dengan peranan planet-planet tersebut.
  
d.1.e. Jiwa Manusia
Jiwa manusia bersumber dari jiwa universal. Dalam perkembangannya jiwa manusia banyak dipengaruhi materi yang mengitarinya. Agar jiwa tidak kecewa dalam perkembangannya, maka jiwa dibantu oleh akal yang merupakan daya bagi jiwa untuk berkembang.
Pengetahuan diperoleh melalui proses berpikir. Anak-anak pada mulanya seperti kertas putih yang bersih yang belum ada coretan. Lembaran putih tersebut akan tertulis dengan adanya tanggapan panca indra yang menyalurkannya ke otak bagian depan yang memiliki daya imajinasi (al-quwwat al-mutakhayyilat). Dari sini meningkat ke daya berfikir (al-quwwat al-mufakkirat) yang terdapat pada otak bagian tengah. Pada tingkat ini manusia sanggup membedakan antara benar dan salah, antara baik dan buruk, setelah itu, disalurkan kedaya ingatan (al-quwwat al-hafizhat) yang terdapat pada otak bagian belakang. Pada tingkat ini seseorang telah sanggup menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh daya berpikir. Tingkatan terakhir adalah daya berbicara (al-quwwat al-nathiqat), yaitu kemampuan mengungkapkan pikiran dan ingatan itu melalui tutur kata yang bermakna kepada pendengar atau menuangkannya lewat bahasa tulis kepada pembaca.

17
Manusia selain mempunyai indra zahir, juga memiliki indra batin yang berfungsi mengolah hal-hal yang ditangkap oleh indra zahir sehingga melahirkan konsep-konsep.30
Dalam tubuh manusia, jiwa memiliki tiga fakultas, yaitu :
a.       Jiwa tumbuhan
Jiwa ini dimiliki oleh semua makhluk hidup, tumbuhan, hewan, dan manusia. Jiwa ini terbagi dalam tiga daya : makan, tumbuh dan reproduksi.
b.      Jiwa hewan
Jiwa ini hanya dimiliki oleh hewan dan manusia, ia terbagi dalam dua daya : penggerak dan sensasi (persepsi dan emosi).
c.       Jiwa manusia
Jiwa ini hanya dimiliki manusia. Jiwa yang menyebabkan manusia berpikir dan berbicara.
Ketiga fakultas jiwa di atas bersama dengan daya-dayanya bekerja sama dan menyatu dalam diri manusia. Di sinilah letak kelebihan manusia dari makhluk ciptaan Allah yang lain.
Sementara itu, tentang kebangkitan di akhirat, Ikhwan Al Shafa sama pendapatnya dengan filosof muslim pendahulunya, yakni kebangkitan berbentuk rohani. Surga dan Neraka dipahami dalam makna hakikat. Surga adalah kesenangan dan Neraka adalah penderitaan.

d.2. Pendidikan
Menurut Ikhwan, aktivitas pendidikan dimulai sejak sebelum kelahiran. Sebab, kondisi diri bayi dan perkembangannya sudah dipengaruhi oleh keadaan kehamilan dan kesehatan sang ibu yang hamil. Dengan demikian, perhatian pendidikan harus sudah diberikan sejak masa janin dalam rahim, karena janin berada dalam rahim selama Sembilan bulan itu, adalah agar sempurna bentuk dan kejadiannya, setiap orang berakal mengetahui bahwa janin yang lahir dalam keadaan cacat dan tidak sempurna bisa menjadi tidak berguna di dunia. Para dokter pun menasehati ibu-ibu hamil untuk berhati-hati dalam bergerak dan beraktivitas, jangan sampai nantinya berdampak buruk bagi janin yang ada dalam rahim. Yang diharapkan dengan hal itu tentunya agar si janin lahir ke dunia dalam keadaan sehat dan normal.31 Hal-hal tersebut dimaksudkan agar memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan kejiwaan janin.
Sumber-sumber pengetahuan menurut Ikhwan Al Shafa terbagi menjadi empat dimensi :
1.      Kitab suci yang diturunkan, semisal Taurat, Injil, dan Al Quran
2.      Kitab-kitab yang disusun oleh para hukama’ (orang-orang bijak) dan filosof, baik berupa Matematika, Fisika-Kealaman, Sastra dan Filsafat
3.      Alam, yakni bentuk empiris (phenoumenon) segala yang sesuatu sebagaimana adanya
4.      Perenungan alam semesta dan tata aturan kosmiknya, atau sering disebut substansi noumenon, ragam dan macamnya, serta kaitan fungsionalnya dengan kenyataan empiris (phenoumenon).
[15]klkjjhgg
Penetapan adanya hubungan antara pengetahuan intelektual ( kognisi ) dengan dasar-dasar fisiologis membukakan jalan bagi kelompok Ikhwan untuk memformulasikan teori yang kokoh tentang mekanisme terbentuknya pengetahuan intelektual atau konsep dan dampak induksi terhadapnya. Ikhwan berpendapat bahwa para filosof berpikir tentang segala yang ada (al-maujudat), pada awal mulanya mereka mengamati person-person lain yang belum diamati, baik di masa yang telah lalu maupun di masa yang akan datang. Akhirnya mereka sampai pada sebuah konklusi bahwa semuanya berada dalam “bentuk” manusia (al-shurah al-insaniyyah). Yang berbeda di antara masing-masing hanyalah sifat bukan esensi, semisal panjang pendeknya, dan hitam-putihnya.
[16]  Kesadaran kuat Ikhwan Al Shafa terhadap urgensi indra dalam memperoleh pengetahuan dan imperasinya dalam keberadaan manusia, baik dataran empiris-sensual maupun empiris-logis, membawa mereka pada pengapresiasian peran dan fungsi fisik dan jasmaniah untuk kebahagiaan manusia dan kehormatan hidupnya. Mereka secara khusus menulis tentang masalah ini dalam risalah fashl al-siyasah al-jismaniyah (Bab Pengaturan Fisik-Jasmaniah). Di sini, mereka menekankan perlunya memperhatikan fisik-jasmaniah, memeliharanya dan mengaturnya dengan seksama agar jangan sampai tidak terurus kebutuhan makan dan minumnya. “Sekiranya kebutuhan makan, minum, gerak dan istirahat dari fisik jasmaniah terpenuhi dengan baik, maka kamu akan sehat wal afiat”.32
Totalitas pendidikan merupakan aktivitas moral. Mereka menyebutnya dengan al siyasah al-nafsiyyah, agar moralmu menjadi baik, kebiasaanmu menjadi positif dan tindakanmu menjadi lurus : mau menyampaikan amanat kepada yang berhak, pandai mengendalikan diri, menghormati hak orang lain, bersikap baik terhadap tetangga.
 Bersikap tulus kepada sesama, penuh cinta-kasih, tidak rakus, tidak suka berkeluh kesah, bersikap empatik, berbuat baik tanpa pamrih, karena bila punya pamrih untuk dibalas, maka tidak lagi bernilai kebaikan, atau punya pamrih disanjung, maka ini adalah ke-nifaq-an, dan tidak pantas bagi orang semacan itu berada di barisan makhluk ruhaniah yang mulia.33
Ø  Pendidik (guru)
Ikhwan Al Shafa menempatkan pendidik (guru) pada posisi strategis dan inti dalam kegiatan pendidikan. Mereka mempersyaratkan kecerdasan, kedewasaan, kelurusan moral, ketulusan hati, kejernihan pikir, etos keilmuan dan tidak fanatik buta pada diri pendidik.34
Ikhwan Al Shafa menganggap bahwa mendidik sama dengan menjalankan fungsi “bapak” kedua, karena pendidik atau guru merupakan bapak bagi dirimu, pemelihara pertumbuhan dan perkembangan jiwamu, sebagaimana halnya kedua orang tuamu adalah ‘pembentuk’ rupa fisik-biologismu, maka guru adalah ‘pembentuk’ rupa mental-rohaniahmu. Sebab, guru telah ‘menyuapi’ jiwamu dengan ragam pengetahuan dan membimbingnya kejalan keselamatan dan keabadian, seperti apa yang telah dilakukan oleh kedua oaring tuamu yang menyebabkan tubuhmu terlahir kedunia, mengasuhmu dan mengajarimu mencari nafkah hidup di dunia yang fana ini.


-          Peserta Didik
Merujuk kembali pada konsep pemikiran kelompok Ikhwan Al-Shafa bahwa peserta didik ialah manusia yang ingin mencapai kesempurnaan dunia dan akhirat. Ini dibuktikan dengan konsep mereka tentang manusia yaitu manusia tersusun dari unsur fisik-biologis dan unsur jiwa-rohaniah. Maka sejatinya kedua unsur tersebut memiliki perbedaan sifat dan berlawanan kondisinya namun memiliki kesamaan dalam tindakan dan sifat aksidentalnya dikarenakan unsur fisik biologisnya, manusia berkecenderungan untuk kekal di dunia dan hidup selamanya. Sedangkan unsur jiwa-rohaniah manusia berkecenderungan untuk meraih akhirat dan keselamatan disana.35             Sejalan dengan prinsip bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, maka bagi peserta didik ( murid ) dikehendaki hal-hal sebagai berikut:
a.       Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau tidak takabur.
b.      Merasa satu saudara dan bangunan dengan murid yang lain.
c.       Menjauhkan diri dari mempelajari mazhab yang menimbulkan kekacauan dalam pikiran.
d.      Mempelajari berbagai jenis ilmu dan berupaya sungguh-sungguh sehingga mencapai tujuan dari tiap ilmu tersebut.
e.       Kurikulum
  

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai.
Demikianlah teori-teori Ikhwan Al Shafa tentang kependidikan dan tujuan-tujuannya yang bersifat sosial dan intelektual. Barangkali ini merupakan teori paling lengkap yang pernah dihasilkan oleh para ahli pendidikan Islam, suatu teori terpadu sistematik dan berdasar analisa rasional. Mereka membingkai teori-teori tersebut dengan kerangka moral utama berupa keharusan menguasai ilmu pengetahuan ( al-ilm )untuk sarana peningkatan kualitas dan kemuliaan diri.
Dalam kerangka apresiasi tujuan moral keilmuan, Ikhwan Al Shafa mengingatkan bahaya ulama jahat (  ulama’ al-su’ ), yakni ulama’ yang bermoral rendah dan hina yang perlu dijauhi dan diwaspadai, seperti bersikap sombong dan bangga diri, karena Nabi SAW pernah bersabda, “ Barangsiapa bertambah ilmunya, namun tidak semakin tawadhu’ kepada Allah, tidak semakin bersikapcinta kepada orang alim, maka ia hanya akan bertambah jauh dari Allah


B.     Saran
Demikian pembahasan makalah yang dapat penulis sajikan, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca tentang Ikhwan Al Shafa, sebagai salah satu aliran filsafat dalam Islam dan penggagas teori pendidikan yang muncul di tengah belantika khazanah filsafat Islam dan tokoh-tokoh pendidikan Islam yang lainnya.
 Selanjutnya sebagai manusia yang pasti mempunyai salah dan lupa,serta dalam penulisan makalah ini tidak mungkin sampai pada tingkat kesempurnaan, oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari saudara pembaca yang budiman demi kesempurnaan makalah ini dan pembuatan makalah-makalah yang berikutnya, serta untuk penyemangat bagi penulis khususnya dan teman-teman pembaca yang budiman umumnya. 

DAFTAR PUSTAKA

Amin Ahmad, Zuhr Al Islam, Kairo: Dar Al Kitab Al Araby, 1969.
Athiyas Al Iraqy M, Alfalasifat Al Islamiyyat, Kairo: Dar AlMa’arif, 1987.
Farwakh Umar, Ikhwan Ash Shaffa, Beirut: Dar Al Kitabal Lubani, 1981.
Ghalib Mustafa, Ikhwan Al Shafa Wa Khulan Al Wafa, Beirut: Dar Al Maktabat Al    .                                             .            Hilal, 1979.
Haitami Mohammad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Gaya Media, 1983.
Jawwad Ridha M, Tiga Aliran Utama Pendidikan Islam, Yogyakarta: PT.Tiara              ..             Wacana, 2002.
Nasution Harun, Akal dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta: Universitas Indonesia, 1983.
S Praja Juhaya, Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, Bandung: CV.Pustaka .         Setia, 2009.
Utsman Najati M, Jiwa Dalam Pandangan Filosof Muslim, Bandung Pustaka             Hidayah, 2002.
Zar Sirajuddin, Filsafat Islam ( Filsof dan Filsafatnya ), Jakarta: PT. Grafindo ..         Persada, 2004.



[1] Muhammad ‘Athiyas Al Iraqy, Al Falasifat Al Islamiyyat (Kairo: Dar Al Ma’arif, 1987) , hal. 29
2 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam (Filosof &Filsafatnya).(Jakarta: P.T. Grapindo Persada, 2004). hal.139
3Ibid. Hal. 139
4Ibid. Hal. 140
3
5Ahmad Amin, Zuhr Al Islam. Juz II, (Kairo: Dar Al Kitab Al Araby, 1969), hal. 147
6M.Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Filosof Muslim, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hal. 18
7Umar Farwakh, Ikhwan Ash Shaffa,cet.III, (Beirut: Dar Al Kitabal Lubnani, 1981), hal. 18



4
8Muhammad Jawwad Ridla, Tiga Aliran Utama Pendidikan Islam, (Yogyakarta: P.T. Tiara Wacana, 2002), hal. 147
9 Sirajuddin, Filsafat Islam, hal. 41
10 Jawwad Ridla, Tiga Aliran, hal. 147

11 Juhaya S. Praja, Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam. (Bandung, CV. Pustaka Setia.2009 ).hal.101
12 S.Praja, Ibid, hal. 99

13Najati, Jiwa Dalam Pandangan. Hal.113
14 Ibid,  hal. 113
15Ibid, hal .117
16 S.Praja, Supriyadi, hal. 101
17 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, hal. 143

18Muhammad  Athif Al-Iraqy, hal. 30

26Mustafa Ghalib, Ikhwan Al-Shafa wa Khulan al-Wafa’, ( Beirut: Dar al-Maktabat al-Hilal, 1979 ), hal. 49
27Ibid, hal. 191
28Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, ( Jakarta: Universitas Indonesia, 1983 ), cet.II, hal. 67

35Moh. Haitami, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Gaya Media,1983), hal.83





22

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More